google.com, pub-9717546832976702, DIRECT, f08c47fec0942fa0 google.com, pub-7852137543983973, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sejarah Perjuangan Aria Wangsakara: Ulama dan Pejuang Asal Tangerang

Sejarah Perjuangan Aria Wangsakara: Ulama dan Pejuang Asal Tangerang

Nama Aria Wangsakara mungkin belum sepopuler pahlawan nasional lainnya, namun jasa dan kiprahnya dalam mempertahankan tanah air dari pengaruh penjajah serta menyebarkan Islam di wilayah Tangerang sangat besar. Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang bangsawan dan ulama, tetapi juga pejuang yang rela meninggalkan kenyamanan hidup di istana demi mempertahankan kedaulatan dan nilai-nilai Islam.

Dalam sejarah lokal Banten, khususnya Tangerang, nama Aria Wangsakara begitu dihormati. Bahkan, hingga kini makamnya masih diziarahi dan menjadi bagian penting dari identitas sejarah masyarakat setempat. Mari kita telusuri lebih jauh jejak dan perjuangan tokoh besar ini.

RADEN ARIA WANGSAKARA Dikutip dari Kompas.com 29 Oktober 2021, Raden Aria  Wangsakara merupakan pejuang yang juga dikenal sebagai pendiri wilayah  Tangerang. Wangsakara merupakan keturunan Raja Sumedang Larang, Sultan  Syarif Abdulrohman. Ia bersama

  1. Latar Belakang Kehidupan Aria Wangsakara

1.1 Keturunan Bangsawan Sunda

Aria Wangsakara lahir sekitar awal abad ke-17 di wilayah Kesultanan Sumedang Larang, yang sekarang termasuk dalam wilayah Jawa Barat. Ia merupakan keturunan dari Prabu Geusan Ulun, raja terakhir Kesultanan Sumedang Larang. Garis keturunannya yang mulia memberinya gelar bangsawan dan pendidikan yang baik sejak kecil, termasuk dalam ilmu keagamaan dan pemerintahan.

Sejak muda, Wangsakara dikenal memiliki kecerdasan dan keberanian. Namun, jiwa nasionalismenya membuat ia gelisah melihat kolaborasi para bangsawan lokal dengan penjajah, khususnya VOC (Belanda), yang saat itu mulai memperluas pengaruhnya di wilayah Sunda.

  1. Perjalanan Hijrah ke Wilayah Tangerang

2.1 Menolak Kolonialisme

Kegelisahan Aria Wangsakara terhadap pengaruh Belanda mendorongnya untuk mengambil keputusan besar: meninggalkan istana dan berkelana ke barat bersama para pengikutnya. Tujuannya bukan sekadar mencari tempat tinggal baru, melainkan membentuk wilayah mandiri yang terbebas dari kontrol VOC serta menjadi pusat dakwah Islam.

Ia melakukan hijrah ke wilayah yang kini dikenal sebagai Tangerang. Saat itu, daerah tersebut masih berupa hutan lebat dan belum banyak dihuni. Aria Wangsakara bersama rombongan membuka lahan dan mendirikan pemukiman di sekitar Sungai Cisadane.

  1. Mendirikan Kesultanan Islam di Tangerang

3.1 Lahirnya Pusat Pemerintahan Islam Lokal

Di wilayah baru tersebut, Aria Wangsakara mendirikan pusat pemerintahan kecil bernama “Kampung Lengkong,” yang kelak berkembang menjadi wilayah strategis dalam sejarah Tangerang. Ia mendirikan pesantren dan masjid, serta mulai menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar.

Wilayah ini menjadi otonom dan dipimpin langsung oleh Wangsakara, dengan sistem pemerintahan Islam yang adil dan berpihak pada rakyat. Karena pengaruhnya yang luas, masyarakat sekitar mengakui kekuasaan Wangsakara dan menyebutnya sebagai pemimpin spiritual dan politik.

3.2 Gelar Syekh Aria Wangsakara

Setelah berhasil membangun tatanan masyarakat yang berbasis Islam dan berdaulat, ia dikenal sebagai Syekh Aria Wangsakara. Gelar ini menunjukkan kedudukannya sebagai tokoh agama sekaligus pemimpin rakyat.

  1. Perlawanan terhadap VOC dan Kolonialisme

4.1 Penolakan Kuasa Asing di Wilayah Tangerang

Meski wilayah Tangerang saat itu mulai dikuasai Belanda, Aria Wangsakara bersikap tegas menolak dominasi mereka. Ia tidak mengizinkan VOC untuk mengelola wilayahnya, bahkan berulang kali menolak kerja sama ekonomi ataupun politik. Sikap ini dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan.

Ia menyadari bahwa kerjasama dengan Belanda hanya akan membuat rakyatnya semakin menderita. Oleh karena itu, ia lebih memilih hidup mandiri bersama rakyatnya, walaupun harus menghadapi tekanan dan ancaman dari VOC.

4.2 Strategi Bertahan di Tengah Penjajahan

Alih-alih melawan secara frontal dengan senjata, Aria Wangsakara memilih jalur diplomasi dan perlawanan budaya. Ia memperkuat pendidikan Islam, adat lokal, dan solidaritas antar masyarakat sebagai bentuk pertahanan terhadap penetrasi budaya dan kekuasaan asing.

Pendekatan ini cukup efektif menjaga identitas masyarakat Tangerang dari asimilasi yang tidak sehat. Wangsakara percaya bahwa mempertahankan nilai-nilai agama dan kebudayaan adalah bentuk perlawanan yang paling kokoh dalam jangka panjang.

  1. Dakwah Islam dan Pembangunan Masyarakat

5.1 Pendiri Pesantren Pertama di Tangerang

Aria Wangsakara dikenal sebagai salah satu pendiri pesantren tertua di wilayah Tangerang. Pesantren ini menjadi pusat pembelajaran Islam yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Di tempat ini, ia mengajarkan tafsir, fikih, tasawuf, dan juga ilmu tata negara Islam.

Pesantren ini kelak menjadi cikal bakal tradisi pendidikan Islam di Tangerang dan sekitarnya. Murid-muridnya menyebar ke berbagai penjuru dan meneruskan perjuangan dakwah Wangsakara.

5.2 Pembangunan Sosial dan Ekonomi

Wangsakara juga aktif mengatur sistem pertanian, perdagangan, dan distribusi hasil bumi. Dengan sistem kepemimpinan yang adil dan berbasis musyawarah, masyarakat Tangerang kala itu hidup dalam suasana yang damai dan sejahtera.

  1. Warisan Budaya dan Spiritual

6.1 Makam Aria Wangsakara sebagai Situs Ziarah

Makam Aria Wangsakara terletak di Lengkong Kyai, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan. Tempat ini hingga kini masih sering diziarahi masyarakat. Setiap tahun, banyak warga dari berbagai daerah datang untuk mendoakan dan mengenang jasa beliau.

Ziarah ke makam Wangsakara bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga simbol penghormatan atas perjuangan seorang tokoh yang membela tanah air dengan ilmu dan keteladanan moral.

6.2 Pelestarian Nilai-nilainya oleh Generasi Penerus

Keteguhan, keberanian, dan dedikasi Wangsakara menjadi inspirasi bagi masyarakat Banten dan sekitarnya. Banyak pesantren, sekolah, dan komunitas budaya yang mengadopsi nilai-nilainya dalam sistem pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.

  1. Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional

7.1 Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

Pada 10 November 2021, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Aria Wangsakara. Penghargaan ini diberikan atas dasar perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam, membangun masyarakat madani, dan mempertahankan wilayah dari pengaruh kolonialisme.

Gelar ini tidak hanya pengakuan simbolik, tetapi juga bentuk penegasan bahwa perjuangan intelektual dan spiritual sama pentingnya dengan perlawanan bersenjata dalam meraih kemerdekaan.

7.2 Dampak Pengakuan Terhadap Sejarah Lokal

Pengakuan ini membawa dampak positif bagi pelestarian sejarah lokal Tangerang. Pemerintah daerah dan masyarakat kini lebih serius dalam mendokumentasikan warisan Aria Wangsakara, termasuk pengembangan kawasan makam menjadi situs sejarah nasional.

Baca Juga Perjuangan Pangeran Antasari dalam Melawan Belanda: Kisah Heroik dari Tanah Banjar

  1. Kesimpulan: Aria Wangsakara, Pejuang Tanpa Kekerasan

Sejarah perjuangan Aria Wangsakara membuktikan bahwa perlawanan terhadap penjajah tidak selalu dilakukan dengan senjata. Keteguhan dalam mempertahankan nilai, keteladanan dalam memimpin, dan keberanian untuk mandiri adalah bentuk perjuangan yang tak kalah heroik.

Ia adalah contoh sempurna seorang pemimpin yang mengedepankan pendidikan, moral, dan spiritualitas sebagai pondasi membangun peradaban. Aria Wangsakara tidak hanya membela tanah, tetapi juga menjaga jiwa bangsanya dari kehancuran budaya dan agama.

Warisan beliau masih hidup hingga kini, dan akan terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi Indonesia ke depan.

Leave a Comment